STUDI PEMANFAATAN CITRA STRM (Shuttle Radar Topography Mission) UNTUK PENGAMATAN SESAR AKTIF LEMBANG KAB BANDUNG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wilayah indonesia merupakan daerah dimana terdapat perpotongan tiga lempeng, yaitu Lempeng Samudera Hindia-Australia yang bergerak relatif ke utara, Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak relatif ke barat dan Lempeng Benua Eurasia yang relatif stabil, akibatnya wilayah ini indonesia banyak terdapat sesar aktif yang dapat menimbulkan bencana pada waktu gempa terjadi. Sesar Lembang adalah salah satu landmark geologis yang paling menarik di Dataran Tinggi Bandung dan ekspresi geomorfologi yang jelas dari aktivitas neotektonik di Cekungan Bandung. Sesar Lembang secara morfologi diekspresikan berupa gawir sesar (fault scrap) dengan dinding gawir menghadap kearah utara. Bagian Sesar Lembang yang dapat dilihat, baik dari peta topografi terutama dari foto udara ataupun citra satelit, mempunyai panjang 22 km. Dari timur ke barat, tingginya gawir sesar yang mencerminkan besarnya pergeseran sesar (loncatan vertical/throw maupun dislokasi) berubah dari sekitar 450-an meter di ujung timur (Maribaya, G. Pulusari) dan 40-an meter di sebelah barat (Cisarua) dan kemudian menghilang di ujung barat utara Padalarang.[1]

Dengan adanya perkembangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (geographic information system) yang pesat saat ini, analisis spasial wilayah dalam hubungannya dengan bidang ilmu kebumian seperti geologi, geomorfologi, tataguna lahan dan lain-lainnya mudah dilakukan. Penggabungan atau integrasi hasil interpretasi dan data sekunder lainnya dapat dilakukan dengan cepat dan akurat dengan bantuan teknik sistem informasi geografis. Sajian dalam SIG dapat berupa manipulasi data yang berupa spasial serta data yang berupa atribut, serta mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan memodelkan suatu 3D permukaan sebagai DEM (Digital Elevation Model ;, Model Digital Ketinggian); DTM (Digital Terrain model: Model Digital Permukaan) atau TIN (Triangular Irregular Network ; Jaringan Bersegitiga yang tidak beraturan). Berbagai kepentingan yang berkaitan dengan bidang spasial kebumian dapat dianalisa dan dimodelkan Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah, atau gejala dengan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, daerah, atau gejala yang dikaji.[2]

Remote sensing is the science (and to some extent, art) of acquiring information about the Earth’s surface without actually being in contact with it. This is done by sensing and recording reflected or emitted energy and processing, analyzing, and applying that information[3]

Penginderaan jauh (remote sensing) telah digunakan untuk berbagai macam keperluan, antara lain untuk keperluan analisis dalam bidang kelautan, analisis bidang pertanian, analisis bidang pertambangan, dan lain sebagainya. Penginderaan jauh merupakan suatu metode untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, areal, ataupun fenomena geografis melalui analisis data yang diperoleh dari sensor.

Perkembangan ilmu penginderaan jauh dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga manusia selalu akan mengembangkan kemampuannya dalam mengembangkan ilmu tersebut, salah satunya dengan mengembangkan citra satelit agar dapat digunakan untuk kepentingan – kepentingan lainnya yang erat kaitannya dengan perolehan informasi suatu objek, daerah ataupun fenomena geografisnya. Salah satu contoh citra satelit generasi baru adalah citra SRTM. Pemanfaatan citra satelit tersebut tentu saja haruslah sesuai dengan tujuan yang hendak ingin dicapai oleh penginterpretasi citra. Sehingga penggunaan citra satelit tersebut memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan. Karakteristik berbeda – beda, mulai dari panjang gelombang yang digunakan untuk perekaman, sistem perekamannya, spesifikasinya, serta pemanfaatan kedua citra tersebut juga berbeda – beda.

Berdasarkan uraian tersebut dalam makalah ini akan kami uraikan mengenai karakteristik citra SRTM serta pemanfaatannya untuk permodelan Sesar Lembang di cekungan Bandung.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan-permasalahn yang kemudian dijadikan sebagai rumusan masalah adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud interpertasi Citra Pengindraan Jauh ?
  2. Apa yang dimaksud dengan Citra Satelit SRTM ?
  3. Bagaimana Pemanfaatan Citra Satelit SRTM ?

 C. Tujuan

Dalam menentukan tujuan, tentu mengacu pada rumusan masalah dengan harapan makalah ini lebih tersistematis dalam penyajiannya. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan interpertasi Citra Pengindraan Jauh ?
  2. Mengetahui apa yang di maksud dengan Sitra Satelit SRTM ?
  3. Mengetahui bagaimana pemanfaatan Sitra Satelit SRTM ?

 BAB II

PEMBAHASAN

 A. Interpretasi Citra Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, fenomena atau daerah melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah atau fenomena yang dikaji.[4]

Di dalam teknologi penginderaan jauh dikenal dua sistem, yaitu penginderaan jauh dengan sistim pasif (passive sensing) dan sistim aktif (active sensing). Penginderaan dengan sistim pasif adalah suatu sistim yang memanfaatkan energi almiah, khususnya energi matahari, sedangkan sistim aktif menggunakan energi buatan yang dibangkitkan untuk berinteraksi dengan benda/obyek. Sebagian besar data penginderaan jauh didasarkan pada energi matahari.

Gambar 1 : Sistem Penginderaan Jauh

Selain sistim pasif penginderaan dengan sistim aktif menggunakan sumber energi buatan yang dipancarkan ke permukaan bumi dan direkam nilai pantulnya oleh sensor. Sistim aktif ini biasanya menggunakan gelombang mikro (micro wave) yang mempunyai panjang gelombang lebih panjang dan dikenal dengan pencitraan radar (radar imaging). Sistim aktif mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sistim optik dalam hal mampu menembus awan dan dapat dioperasikan pada malam hari karena tidak tergantung pada sinarmatahari. Sistim aktif antara lain diterapkan pada Radarsat (Kanada), ERS-1 (Eropa) dan JERS (Jepang).

Gambar 2: Panjang Gelombang

Jenis data penginderaan jauh, yaitu citra. Citra adalah gambaran rekaman suatu objek atau biasanya berupa gambaran objek pada foto. menyebutkan bahwa terdapat beberapa alasan yang melandasi peningkatan penggunaan citra penginderaan jauh, yaitu sebagai berikut.

  1. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala di permukaan bumi dengan wujud dan letaknya yang mirip dengan di permukaan bumi.
  2. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala yang relatif lengkap, meliputi daerah yang luas dan permanen.
  3. Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambaran tiga dimensi apabila pengamatannya dilakukan dengan stereoskop.
  4. Citra dapat dibuat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara terestrial.[5]

Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut . Unsur dasar pengenalan citra terdiri dari rona, tekstur, pola, bentuk, ukuran, letak (site), asosiasi dan bayangan.

  1. Rona

Rona adalah ukuran jumlah relatif cahaya yang terpantul dari suatu objek yang terekam pada foto hitam putih (Lattman dan Ray, 1965 dalam Soetoto, 1996). Rona biasanya dinyatakan dengan cerah, abu-abu atau gelap. Akan tetapi rona ini untuk wilayah Indonesia kurang bermanfaat karena tertutup vegetasi. Keseragaman rona   dapat dibagi   menjadi: uniform, mottled, banded dan scrabbled. Uniform-tone (rona seragam). Rona seragam ini ditunjukkan oleh obyek yang mempunyai tingkat kecerahan sama di setiap bagian. Contohnya endapan aluvial. Mottled tone. Rona ini tampak berupa cerah dan gelap dengan bentuk yang relatif bundar, berubah-ubah dalam jarak yang relatif dekat yang terlalu kecil untuk di delineasi sendiri-sendiri. Rona ini dapat disebabkan oleh perubahan kandungan air atau tekstur tanah. Contohnya, daerah bertopografi karst, dataran pantai, gumuk pasir, dan dataran banjir.

Banded tone. Rona ini tampaknya berupa rona cerah dan gelap berselang-seling, seperti berkas atau pita yang lurus atau meliuk-liuk. Contohnya pematang pantai, gawir pada batuan sedimen. Scrabbled-tone. Rona ini tampak berupa rona gelap dan cerah dengan bentuk tidak menentu dan ukuran bervariasi. Rona ini dapat dijumpai di daerah bertekstur halus tetapi tidak teratur, seperti daerah aliran lava dan lahar.

  1. Tekstur

Tekstur adalah derajat kekasaran atau kehalusan yang ditunjukkan oleh citra (Avery, 1977 dalam Soetoto, 1996). Tekstur biasanya dinyatakan dengan halus, sedang, dan kasar. Tekstur halus umumnya menunjukkan batuan homogen berbutir halus sedangkan   tekstur kasar dijumpai pada   batuan heterogen, berelief tinggi, namun hal ini berlaku apabila penutup lahan tidak ada.

  1. Pola

Pola yaitu susunan meruang yang teratur mengenai kenampakan geologi, topografi dan vegetasi (Ray, 1960 dalam Soetoto, 1996). Misalnya pola garis lurus menunjukkan adanya kekar (joints), sesar (faults), dan ketidakselarasan (unconformities). Pola garis-garis melengkung menunjukkan adanya kubah (domes), antiklin menunjam, sinklin menunjam dan batas penyebaran batuan volkanik Kuarter. Pola penyaluran pada umumnya berkaitan dengan morfologi daerah yang bersangkutan.

  1. Bentuk

Bentuk adalah variabel kualititatif yang memerikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek (Lo, 1977 dalam Sutanto, 1986). Obyek yang dapat dikenali dari bentuknya antara lain kerucut vulkanik, gumuk pasir (sandune), endapan marin, meander, kipas aluvial, dan daerah bertopografi karst.

  1. Ukuran

Ukuran adalah atribut suatu obyek yang meliputi dimensi panjang, lebar, tinggi, luas, volume dan sudut kemiringan (Soetoto, 1996). Ukuran harus dikaitkan dengan   skala. Misalnya dike berukuran   kecil memanjang, sill memanjang sejajar jurus lapisan batuan dan lain-lain.

  1. Letak

Letak yaitu kenampakan letak obyek terhadap obyek lain di sekitarnya, letak juga diartikan sebagai letak obyek terhadap bentang darat (Estes dan Simonet, 1975 dalam Sutanto, 1986) atau yang sering disebut situs (site). Situs pemukiman memanjang umumnya pada igir beting pantai, pada tanggul alam (natural-levee) atau di sepanjang tepi jalan. Lava muda akan terletak pada lereng puncak gunungapi (Soetoto, 1996).

  1. Asosiasi

Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek lain (Sutanto, 1986). Misalnya, endapan kipas aluvial berasosiasi dengan gawir sesar dan triangle-facets. Lava akan berasosiasi dengan lahar, breksi vulkanik dan aglomerat (Soetoto, 1996).

  1. Bayangan

Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada umumnya tidak tampak sama sekali atau tampak samar-samar. Bayangan dapat digunakan untuk mengenal bentuk benda dari pandangan samping dan dapat mempertajam /memperjelas kenampakan obyek, misalnya gawir sesar (Soetoto, 1996).

B. Citra SRTM

SRTM adalah salah satu satelit radar interferometri (InSAR) yang di promosikan pertama kali pada bulan Februari 2000. Untuk pertama kalinya satelit ini menghadirkan DEM berkualitas tinggi secara global yang dicapai dengan resolusi 1 arc sec (~ 30 m) dan 3 busur sec (~ 90 m, yang di sediakan secara gratis) yang meliputi daerah Bumi antara 60° N dan 54° S (Van Zyl, 2001)[6]. kesalahan vertikal dari DEM adalah ± 16 m dan ± 6 m untuk akurasi mutlak dan relatif, masing-masing; horizontal akurasi posisi ± 20 m pada tingkat kepercayaan 90%, akurasi mutlak demikian berkaitan dengan kesalahan di seluruh misi sementara akurasi relatif menggambarkan kesalahan pada 200 km skala lokal. penilaian pertama di pegunungan tinggi dibandingkan 90 m SRTM DEM dengan aerophotogrammetric digital elevation model dan menemukan kesalahan persegi (RMSE) dari ketinggian 12-36 m dan kesalahan vertikal maksimum lebih dari 100 m di sangat topografi kasar (Kaab, 2005).[7]

SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) merupakan citra yang saai ini banyak digunakan untuk melihat secara cepat bentuk permukaan. SRTM adalah data elevasi resolusi tinggi merepresentasikan topografi bumi dengan cakupan global (80% luasan dunia). Data SRTM adalah data elevasi muka bumi yang dihasilkan dari satelit yang diluncurkan NASA (National Aeronautics and Space Administration). Data ini berguna untuk melengkapi informasi ketinggian dari produk peta 2D, seperti kontur, profil. Ketelitiannya bisa mencapai 15 m dan berguna untuk pemetaan skala menengah sampai dengan skala kecil.

SRTM dihasilkan dari penyiaman gelombang radar dengan teknik interferometri. Teknik interferometri radar adalah sebuah cara penyiaman muka bumi dengan dua posisi sensor radar yang berbeda tempat. Pada wahana pengambilan data SRTM ini, jarak rentangan dua sensor radar ini sejauh 60 meter, dimana satu sensor berada dalam wahana, dan sensor lain berada pada ujung rentangan di luar wahana. Gelombang radar dimanfaatkan untuk pengambilan data ini karena memiliki kelebihan, diantaranya adalah perekaman dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari. Disamping itu gelombang radar dapat menembus tutupan awan. Dengan demikian, perekaman data SRTM tidak terpengaruh oleh keadaan cuaca setempat. Wahana SRTM membawa dua panel dengan saluran C dan Saluran X. Peta topografi global dari bumi disebut dengan Digital Elevation Models (DEMs). DEMs ini terbuat dari data radar saluran C tersebut. Data ini diolah oleh Jet Propulsion Laboratory dan didistribusikan melalui USGS EROS Data Center.

Potensi mendapatkan pemahaman tentang bagaimana gunung berapi beraktifitas, bahaya yang di timbulkan atau pemantauan morfologi gunung dapat dijelaskan dengan data SRTM serta pemaparan secara jelas. Apa yang mempengaruhi keragaman, variabilitas dan kompleksitas dari morfologi wilayah telah dipelajari secara sistematis, exploring apa yang dapat dipelajari dari bentuk, ukuran dan melampiaskan distribusi morfologi suatu wilayah. Karena panjang gelombang mereka lebih pendek, X-band digital elevation model memiliki akurasi tinggi relatif lebih baik (mis dalam adegan) oleh hampir dua faktor. X-band dataset telah diproses dan tersedia pada resolusi spasial 25 m. The X-band DEMs lakukan tidak menutupi seluruh dunia (yaitu c. 25% dari C-band cakupan Data SRTM tidak tercakup oleh X-band SRTM; daerah tidak dibahas adalah merata didistribusikan di seluruh dunia). Keterbatasan lain adalah E400 per adegan biaya Dems X-band (Website X-SAR SRTM 2005).[8]

SRTM DEMs memiliki potensi untuk memberikan data digital elevation models untuk sebagian besar dunia pada resolusi 30 m di rendah atau tanpa biaya. Data SRTM disediakan sebagai DEM yang dapat diolah dan di manupulasi secara penuh. Perbandingan dataset ini memungkinkan identifikasi kelebihan dan keterbatasan mereka dalam rangka untuk memilih dataset terbaik yang cocok untuk aplikasi dan kajian tertentu.[9] Alasan menggunakan SRTM dalam GIS tentu karena kelebihannya. Beberapa kelebihan yang dimiliki SRTM antara lain:

  1. Gratis; Ini adalah kelebihan utama yang dimiliki SRTM. Siapa saja dan di mana saja dapat mendownload SRTM tanpa bayar.
  2. Digital; SRTM dapat didownload secara digital.
  1. Resoulsi; resolusi lumayan tinggi untuk skala tinjau. Resolusi horizontal adalah 90 m. Tentu saja dengan resolusi ini SRTM tidak bisa digunakan untuk pemetaan secara detail.

SRTM memiliki struktur data yang sama seperti format GRID lainnya, yaitu terdiri dari sel-sel yang setiap sel memiliki wakil nilai ketinggian. Nilai ketinggian pada SRTM adalah nilai ketinggian dari datum WGS1984, bukan dari permukaan laut. Tapi karena datum WGS1984 hampir berimpit dengan permukaan laut maka untuk skala tinjau dapat diabaikan perbedaan di antara keduanya. Fitur morfologi utama dari wilayah data DEMs yang di hasilkan citra STRM dapat diolah dengan menggunakan Surfer 8.02 (Golden Software) dan dikendalikan terhadap gambar Landsat. perangkat lunak ini digunakan untuk mendapatkan model relief berbayang menunjukkan medan dengan sisi terang dan bayangan (berbayang bantuan peta adalah peta raster berdasarkan pada grid (xyz koordinat, misalnya DEM). Peta yang di hasilkan ini menggunakan warna untuk menunjukkan orientasi lokal permukaan relatif terhadap arah sumber cahaya de-user (orientasi setiap grid) dari sumber cahaya titik pada permukaan jaringan.[10]

Meskipun SRTM memiliki resolusi yang rendah sekitar 90m tetapi masih banyak digunakan sebagai informasi untuk pekerjaan lapangan serta dimanfaatkan untuk membuat peta kontur dan lereng (slope). Hasil peta kontur maupun peta lereng dari pengolahan data SRTM maksimal berskala 1:900000, tetapi dalam realisasinya banyak yang memperbesar skalanya hingga skala 1:250000 atau malah lebih besar lagi. Dengan melakukan perbesaran skala tersebut akan memberikan konsekuensi menyangkut akurasi dari peta kontur maupun peta lereng yang dihasilkan. Untuk menentukan skala peta hasil dari pengolahan citra satelit sebenarnya sangat mudah, yaitu dengan menggunakan rumus: (skala peta = resolusi citra satelit x 10000).

Berdasarkan PP No.10 Tahun 2000 Tingkat Ketelitian Peta Tata Ruang Wilayah adalah sebagai berikut:

  • Peta RTRW Nasional skala minimal 1:1000000 (dapat menggunakan citra LANDSAT-MSS 80m)
  • Peta RTRW     Provinsi skala minimal 1:250000 (dapat menggunakan citra LANDSAT-TM 25m, SPOT Xs 20m)
  • Peta RTRW Kabupaten skala minimal 1:50000 – 100000 (dapat menggunakan citra IKONOS 10m/5m, foto udara 1:100000)
  • Peta RTRW Kota skala minimal 1:50000 (dapat menggunakan citra IKONOS 5m)
  • Peta skala teknis 1:5000 (dapat menggunakan citra Quickbirt 0.5m).

Untuk kaurasi data SRTM memiliki resolusi spasial 30 meter, tetapi sampai saat ini untuk menghasilkan DEM yang beresolusi 30 meter hanya beberapa wilayah di Amerika karena untuk mengolah data SRTM 30 meter menjadi data DEM seluruh dunia dibutuhkan waktu yang lama (+- 10 tahun). Perlu diperhatikan dalam penggunaan data DEM dari SRTM ini adalah bahwa data ketinggiannya merupakan ketinggian permukaan bumi termasuk tutupan lahannya (jadi bukan ketinggian permukaan tanah), dalam hal ini termasuk pula ketinggian tajuk (pohon) dan juga gedung-gedung (ingat daya tembus radar dengan panjang gelombang 5,6 cm sangat terbatas, tidak mampu menembus batang/ranting yang lebat-daun sih bisa).

Dalam penggunaan citra SRTM ini juga mempunyai keuntungan dan kerugian, keuntungan yang di dapatkan dari citra SRTM adalah :

  1. Gratis, ini yang paling disuka oleh siapapun, siapapun boleh untuk memanfaatkan datanya, jadi kalo ada yang minta bayaran untuk data ini berarti cuma mo nipu aja, kecuali dengan alasan sbg ganti biaya untuk download data – bayar warnet :). kalo mo download silahkan di Global Land Cover Facility, CGIAR Consortium, atau di NASA
  2. Resolusi-nya lumayan tinggi dan cocok untuk skala tinjau (jangan berharap lebih deh untuk data gratis, toh ini sudah cukup baik untuk wilayah indonesia yang sangat luas)
  3. Datanya berupa Digital (format HGT, ASCII, atau GEOTIFF)   sehingga dengan mudah dapat dikonversi ke semua format, bergantung software + brainware yang menanganinya tentunya

SRTM memiliki struktur data yang sama seperti format GRID lainnya, yaitu terdiri dari sel-sel yang setiap sel memiliki wakil nilai ketinggian. Nilai ketinggian pada SRTM adalah nilai ketinggian dari datum WGS1984, bukan dari permukaan laut. Tapi karena datum WGS1984 hampir berimpit dengan permukaan laut maka untuk skala tinjau dapat diabaikan perbedaan diantara keduanya.

Adapun kelemahan dari citra SRTM adalah Dalam pengambilan data menggunakan RADAR, antara pesawat dan obyek harus tidak terhalangi. Untuk daerah yang bergunung hal ini sangat sulit dilakukan. SRTM memiliki 0.2% data yang tidak terliputi di muka bumi karena berupa pegunungan.

  1. Patahan Lembang (Lembang Fault)

Kawasan Lembang merupakan salah satu daerah yang potensial di daerah Bandung sebagai sentra pertanian, peternakan, dan pariwisata. Akan tetapi, kawasan ini merupakan daerah yang rawan bencana karena diapit oleh gunungapi Tangkuban Parahu dan Patahan Lembang yang masih aktif.

Secara geologis, kawasan Lembang berada di rangkaian pegunungan yang dikenal sebagai Kaldera Sunda. Kaldera Sunda dan Patahan Lembang terbentuk dari aktivitas gunung purba yang dikenal dengan nama Gunung Sunda. Pada zaman kuarter, kala Pleistosen, Gunungapi Sunda terbentuk. Gunungapi raksasa ini tingginya 3.000-4.000 meter dari permukaan laut, dengan Gunung Burangrang dan Bukit Tunggul sebagai gunungapi parasitnya. Pada saat itu pula Gunung Sunda meletus hingga membentuk kaldera. Gunung ini mengalami beberapa kali letusan dahsyat. Dari Gunung Tangkuban Perahu sendiri akhirnya terbentuk Danau Bandung purba yang terbentuk akibat letusan Tangkuban Perahu. Patahan Lembang melintang dari timur- barat sepanjang 22 km, dengan bagian utaranya relatif turun sedalam 450 meter, terutama di bagian timur patahan. Adapun bagian selatannya relatif tetap pada posisinya. Menurut Van Bemmelen 1949, Patahan Lembang terbentuk akibat dari amblasan yang merupakan efek dari kosongnya ruang magma pada saat letusan besar Gunung Sunda.[11]

Patahan Lembang ini masih aktif sehingga perlu diwaspadai karena dapat memicu gempa bumi besar. Selain kecepatan pergeseran, struktur tanah dan batuan yang ada di sekitar wilayah gempa juga memiliki andil yang besar untuk menentukan besarnya dampak yang ditimbulkan.Cekungan Bandung yang merupakan danau purba pada ribuan tahun silam memiliki struktur tanah yang labil. Di wilayah itu, tanah lempung menjadi bahan utama penyusunnya. Jika terjadi gempa, meskipun skalanya kecil cukup untuk memporakporandakan kawasan Bandung dan sekitarnya.[12]

Kondisi yang membahayakan dan patut diwaspadai adalah adanya interkoneksi sesar dengan patahan Cimandiri di Palabuhanratu, Sukabumi. Patahan Cimandiri membujur dari Ujunggenteng sampai ke Padalarang. Jika patahan ini aktif, akibat dipicu gempa subduksi sebesar 6-7 skala Ritcher di lempeng benua Samudra Hindia, maka bukan tidak mungkin akan berimbas ke patahan Lembang. Jika itu terjadi sungguh tidak terbayangkan kerusakan yang akan terjadi di Bandung.

Gambar 3: Citra SRTM Jawa Barat

Pemanfaatan Citra SRTM Untuk Mengidentifikasi Patahan Lembang Pinggiran Cekungan Bandung terdiri dari rangkaian gunung-gunung. Di utara, ada Gunung Burangrang, Gunung Sunda, Gunung Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, dan Gunung Putri. Sebelah timur ada Gunung Manglayang, di selatan ada Gunung Patuha, Gunung Tilu, Gunung Malabar, Gunung Mandalawangi.Di bagian tengah ada rangkaian gunung api tua, dan di barat dibentengi   rangkaian bukit-bukit   kapur Rajamandala. Bandung memang dilingkung gunung.

Gambar 4: Citra SRTM Cekungan Bandung

Fenomena Patahan Lembang ini apabila diamati akan tampak berupa lineament, yaitu struktur geologi yang membentuk garis lurus membujur arah Barat Laut-Tenggara. Secara fisik di lapangan patahan ini berupa punggung bukit atau ngarai terjal (escarpment) yang membujur Iurus, struktur geologi ini, mengontrol aliran sungai, sehingga aliran sungai Sub DAS Cikapundung HuIu berbelok dan mengalir mengikuti arah patahan.

Melalui citra satelit SRTM morfologi daerah ini dapat dibagi menjadi Lima satuan yaitu: pedataran tinggi (plateu), perbukitan curam, pegunungan terjal, lembah terjal dan punggungan terjal, selain itu pada analisa citra satelit terdapt juga kelurusan yang diperkirakan sebagai sesar dengan arah relatif Barat – Timur lalu berbelok Baratlaut – Tenggara. Daerah ini juga dapat dibagi menjadi dua satuan morfotektonik yaitu punggungan sesar dan pedataran – pegunungan sisa gunung api tua. Secara geologi darah ini dapat dibagi menjadi empat kelompok batuan yaitu : Hasil gunungapi tua tak teruraikan, tuf berbatuapung, tuf pasir dan kolovium. Struktur geologi yang berkembang adalah sesar Lembang yang merupakan sesar neotektonik dan sesar aktif.Citra SRTM daerah Gunung Tangkuban Parahu dan Patahan Lembang.

Gambar 5: Citra SRTM Gunung Tangkuban Parahu dan Lembang

Jika diamati lebih dekat maka akan tampilan sebagai berikut.

Gambar 6: Citra SRTM Patahan Lembang

Selain itu, pada analisa citra satelit terdapat kelurusan sebagai sesar dengan arah relatif barat-timur. Untuk kajian geologi dapat mengidentifikasi, yaitu dengan komposit 732 sehingga tampilannya menjadi jelas.

Gambar 7: Citra Landsat Patahan Lembang dan Sekitarnya

Citra SRTM dapat digunakan untuk mengetahui ketinggian patahan dengan menggunakan kontur.

Gambar 8: Kontur Patahan Lembang dengan Menggunakan Citra SRTM

citra SRTM, citra aster, serta peta dasar digital. Data SRTM dilakukan peng-konversian ke dalam bentuk vektor yaitu berupa data kontur dengan interval kontur pada penelitian ini sebesar 3 meter, hal ini dilakukan guna pembuatan peta TIN (triangular irregular network) sehingga konfigurasi permukaan dengan kesan 3 dimensional dapat terlihat dengan jelas. Kesan topografi ini dapat mempermudah untuk mengetahui jalur sesar utama serta untuk mengetahui pola-pola aliran yang terbentuk pada daerah tersebut.

Data raster berupa citra STRM dilakukan pengkoreksian terlebih dahulu sebelum dilakukan intepretasi dan analisis, koreksi tersebut meliputi koreksi geometrik dan koreksi radiometrik. Koreksi geometrik dimaksudkan agar citra sesuai dengan kondisi di permukaan, sedangkan koreksi radiometrik dimaksudkan guna piksel-piksel dalam citra bebas dari pengaruh awan pada saat perekaman data, sehingga data dapat digunakan untuk  intepretasi lebih lanjut. Saluran citra aster yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan band 3B, VNIR (Visible and Near Infrared) dengan panjang gelombang 0,78 – 0,86 mm dengan resolusi spasial 30 meter, pemilihan saluran ini dikarenakan pada band 3B citra aster memiliki sudut penyiaman 27,6° untuk mempertegas kenampakan permukaan maka digunakan penajaman citra linier 2%, kesan-kesan topografis lebih terlihat jelas sehingga intepretasi mengenai sesar serta pola aliran pada sesar lembang dapat dengan mudah dilakukan.

Gambar 9: DEM Patahan Lembang dengan Menggunakan Citra SRTM

Pembuatan formula untuk mengetahui suatu kelurusan pun dapat dilakukan baik menggunakan aplikasi dari grid, dimana nilai piksel grid dirubah secara seragam. Permasalah yang sering dihadapi bahwa piksel grid mempunyai resolusi spasial yang sangat besar, sehingga diperlukan pembuatan data grid berdasarkan meta data dari citra SRTM. Hal ini juga terbentur dengan kemampuan komputer dalam mengolahnya. Ketika pembuatan data kontur dengan interval 0,5 meter diharapkan dapat memberikan output piksel DEM yang kecil dengan resolusi spasial memadai untuk mendapatkan kedetilan kelurusan. Data citra aster pun dapat dilakukan suatu analisis dengan beberapa pemodelan. Penggunaan formula untuk mengetahui kondisi permukaan guna mempertegas kenampakan permukaan salah satunya digunakan filter, menggabungkan beberapa parameter hasil klasifikasi. Kenampakan kelurusan ini hanya sebatas mengetahui keberadaan patahan-patahan (mikro) dan masih perlu dilakukan cross cek dengan data pendukung lainnya. Untuk mengetahui keaktifan sesar maka masih dilakukan survei dan pengukuran lapangan dengan beberapa metode.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. Unsur dasar pengenalan citra terdiri dari rona, tekstur, pola, bentuk, ukuran, letak (site), asosiasi dan bayangan.

Citra satelit penginderaan jauh dapat memberikan informasi mengenai kondisi geologis dan kerawanan bencana alam secara regional dengan cepat dengan akurasi cukup baik. Salah satu citra satelit yang saat ini banyak digunakan untuk kajian geologi adalah SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission). Dengan citra ini dapat menampilkan bentuk permukaan secara tiga dimensi dengan informasi ketinggiannya.

Citra SRTM dapat di gunakan untuk pengamatan seperti pengamatan daerah patahan seperti daerah patahan di Lembang Bandung atau di kenak sebagai sesar bandung, Melalui citra satelit SRTM morfologi daerah ini dapat dibagi menjadi Lima satuan yaitu: pedataran tinggi (plateu), perbukitan curam, pegunungan terjal, lembah terjal dan punggungan terjal, selain itu pada analisa citra satelit terdapt juga kelurusan yang diperkirakan sebagai sesar dengan arah relatif Barat – Timur lalu berbelok Barat laut – Tenggara. Secara geologi darah ini dapat dibagi menjadi empat kelompok hasil gunungapi tua tak teruraikan, tuf berbatuapung, tuf pasir dan kolovium. Struktur geologi yang berkembang adalah sesar Lembang yang merupakan sesar neotektonik dan sesar aktif.

B. Saran

Penggunaan citra setelit sangat berguna terlebih unutk mengamati objek di permukaan bumi bai yang terlihat maupun tidak terlihat. Penggunaan citra terlebih dalam pengindraan jauh sangat membantu dalam kegiatan analsiis suatu kajian, alangkah lebih baik bila penggunaan analisis pengindraan jauh dapat di tingkatkan dan dapat di pergunakan secara gratis oleh masyarakat luas

DAFTAR PUSTAKA

Ardilles. 2008. Zonasi Kerawanan Bencana dan Gempa Bumi Daerah Lembang dan Sekitarnya. Jurusan Geologi Universitas Padjajaran. Bandung.

Barianto, D.H., 2006, Penggunaan Citra Landsat TM Dalam Penentuan Letak Pusat Erupsi dan Sebaran Batuan Volkanik Serta Rekonstruksi Paleogeografi Tersier Pegunungan Kulon Progo Provinsi DIY dan Jawa Tengah, Tesis, Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada.

Canada. 2010. Fundamental of Remote Sensing. Natural Resources Of Canada. [online] di akses dalam situs https://www.nrcan.gc.ca/sites/www.nrcan.gc.ca/files/…/ pdf/…/fundamentals_e.pdf. hlm 5

Dwiharjo, Puguh. 2009. Penggunaan SRTM dan Aster 3B VNIR Untuk Analisis Geomorfologi Tektonik, [online] di akses dalam situs https:// puguhdraharjo.wordpress.com/2009/11/23/penggunaan-srtm-dan-aster-3bvnir -untuk-analisis-geomorfologi-tektonik/ pada tanggal 22 Juni 2016 pukul 20.00

Huggel, C dkk. Evaluation of ASTER and SRTM DEM data for lahar modeling: A case study on lahars from Popocatépetl Volcano, Mexico. Journal of Volcanology and Geothermal Research 170 (2008) 99-110. 2017. hlm 101, tersedia online di www.sciencedirect.com

Kervyn. Dkk. 2007. Geological Society, London, Special Publications Mapping volcanic terrain using high-resolution and 3D satellite remote sensing. Geological Society, London, Special Publications v. 283; p. 5-30. doi:10.1144/SP283.2. Geological Society of London. hlm 14

Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer. 1994. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Alih Bahasa: Dulbahri. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Nkono, Colllin dkk. 2009 Geodynamic framework of large volcanic fields highlighted by SRTM DEMs: Method evaluation and perspectives exampled on three areas from the Cameroon Volcanic Line. Journal of Volcanology and Geothermal Research 187 (2009) 13–25. hlm 1

Soetoto, 1996, Interpretasi Citra untuk Survei Geologi, PUSPICS, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Somantri, lili.Pemanfaaatan Citra Pengindraan jauh Untuk Mengidentifikasi Patahan Lembang. [online] di akses dalam situs https://zh.scribd.com/doc/312188023 /pjpatahanlembangpdf, hlm 6 di akses pada tanggal 22 Juni 2016 pukul 20.56

Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh I. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 [1] Dwiharjo, Puguh. 2009. Penggunaan SRTM dan Aster 3B VNIR Untuk Analisis Geomorfologi Tektonik, [online] di akses dalam situs https://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/11/23/ penggunaan-srtm-dan-aster-3b-vnir-untuk-analisis-geomorfologi-tektonik/ pada tanggal 22 Juni 2016 pukul 20.00

[2] Sutanto. Penginderaan Jauh I. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 1986.hlm 16

[3] Canada. Fundamental of Remote Sensing. Natural Resources Of Canada. [online] di akses dalam situs https://www.nrcan.gc.ca/sites/www.nrcan.gc.ca/files./pdf/fundamentals_e.pdf. 2010. hlm 5

[4] Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Alih Bahasa: Dulbahri. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. 1994. hlm 8

[5] Sutanto. Penginderaan Jauh I. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 1986. hlm 13

[6] Huggel, C dkk. Evaluation of ASTER and SRTM DEM data for lahar modeling: A case study on lahars from Popocatépetl Volcano, Mexico. Journal of Volcanology and Geothermal Research 170 (2008) 99-110. 2017. hlm 101

[7] Ibid

[8] Kervyn. Dkk. Geological Society, London, Special Publications Mapping volcanic terrain using high-resolution and 3D satellite remote sensing. Geological Society, London, Special Publications v. 283; p. 5-30. doi:10.1144/SP283.2. Geological Society of London. 2007. hlm 14

[9] Kervyn. Dkk. Geological Society, London, Special Publications Mapping volcanic terrain using high-resolution and 3D satellite remote sensing. Geological Society, London, Special Publications v. 283; p. 5-30. doi:10.1144/SP283.2. Geological Society of London. 2007. hlm 14

[10] Nkono, Colllin dkk. Geodynamic framework of large volcanic fields highlighted by SRTM DEMs: Method evaluation and perspectives exampled on three areas from the Cameroon Volcanic Line. Journal of Volcanology and Geothermal Research 187 (2009) 13–25. 2009. hlm 1

[11]Somantri, lili. 2015. Pemanfaaatan Citra Pengindraan jauh Untuk Mengidentifikasi Patahan Lembang. [online] di akses dalam situs https://zh.scribd.com/doc/312188023/pjpatahanlembangpdf, hlm 6 pada tanggal 22 Juni 2016 pukul 20.56

[12]Ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s